TUNAS-TUNAS HARAPAN BANGSA,SOURCE : KICK ANDY

Pernahkah anda membayangkan ada seorang anak berusia 5 tahun bisa menghapal ibukota dan warna-warna bendera sebanyak 194 negara? Jika belum, anda patut mengangkat topi pada bocah bernama M. Itqon Alexander, asal Semarang, Jawa Tengah.

Alex, biasa anak itu dipanggil, memiliki kemampuan yang luar biasa dalam perbendaharaan hapalan peta dunia. Hobinya berawal dari menyukai keragaman warna yang ada di gambar-gambar peta atau atlas, dan kemudian menuntunnya pada penguasaan lokasi berbagai Negara dalam peta.

Penampilannya di Kick Andy kali ini telah membuat sekitar 500 penonton studio berdecak kagum. Misalnya saat host Andy F. Noya bertanya , dimanakah Yugoslavia? Dengan fasih Alex menjawab; “Oh Negara itu dah ndak ada, karena sudah pecah jadi negara Serbia, Montenegro, Slovenia, Kroasia, Bosnia, dan Makedonia,” jawabnya sambil berlari-lari kecil di depan penonton. Dan sang Host sempat agak tersentak malu, saat ia terlupa menyebut nama asal Negara Rusia. “Rusia itu dulu Uni-Sovyet!,” katanya lantang, yang disambut meriahnya tawa dan tepuk tangan penonton studio.

Selain kehebatan penampilan Alex, Kick Andy juga menampilkan Gerson, penabuh drum cilik asal Solo yang pernah meraih penghargaan MURI tahun 2008, sebagai penabuh drum drum termuda. Gerson mulai serius menabuh alat music itu sejak usia 1,5 tahun.

Dari kota Solo pula, Kick Andy menemukan seorang anak yang hobi bermain holahup bernama Agastya. Sejak usia 9 tahun Agastya mulai menyukai permain lingkaran rotan itu. Untuk keuletannya, ia berhasil dua kali menyabet penghargaan MURI.

Sementara itu dari Jakarta, Kick Andy menghadirkan violist cilik Clarissa yang sudah menyelesaikan dua album dan menyabet penghargaan bergengsi di AMI Award 2009, sebagai artis dan produser untuk produksi instrumental terbaik. Penampilan Clarissa juga menawan penonton studio, bahkan sang Host pun ikut terlena hingga menari-nari bersama violist muda itu.

Satu cerita yang tak kalah hebat hadir dari kisah nara sumber bernama Stephani Handoyo. Anak penyandang down syndrome ini memiliki semangat dan prestasi luar biasa sejak usia 9 tahun. Ia telah banyak mengukir prestasi di cabang olah raga renang, bahkan di tahun 2009 ia menjadi atlit penerima medali emas di ajang Special Olympic, Singapura, dalam kelas gaya dada 100 meter. Di saat menginjak remaja sekarang ini, Stephani juga menunjukkan kemampuannya untuk bersekolah di sekolah umum. Sebuah cerita yang akan menginspirasi banyak orang tua.

Decak kagum dan tepuk tangan meriah penonton juga bergema saat seorang bocah asal Bali, Dominic Brian menunjukkan kemampuannya dalam soal menghapal angka. Pada tahun 2002, Brian sudah mendapatkan penghargaan MURI dalam kategori mengingat seratus deret angka dalam waktu 12 detik. Dan pada 15 Agustus 2009, ia tercatat di Guinness World Record sebagai penghapal angka terbanyak, dimana ia mampu mengingat 76 angka dalam satu menit.

Di Kick Andy kali ini, Brian menunjukkan kemampuannya menghapal deret angka dan gambar satu kotak kartu remi yang sudah dikocok dan disusun rapi, hanya dalam satu menit!

Penonton yang terlihat tegang saat Brian mencoba menyebut satu persatu urutan kartu itu, akhirnya memberikan applause dan decak kagum yang sangat meriah, ketika bocah yang selalu berbicara ala orang dewasa itu, bisa menyebutkan seluruh urutannya.

Inilah kisah menarik tentang tunas-tunas anak negeri yang sejatinya akan menjadi bagian dari generasi harapan bangsa.

BERPRESTASI DI NEGERI ORANG,SOURCE : KICK ANDY

Sudah tidak bisa disangkal lagi, mutu pendidikan di Indonesia banyak dikeluhkan berbagai kalangan. Dari tahun ke tahun selalu fasilitas sarana dan pendanaan yang menjadi faktor kendala utama. Dan, ini tentu saja berakibat mutu lulusannya dipertanyakan. Kita mungkin sudah ketinggalan jauh di tingkat regional Asia Tenggara, terutama dari negara Singapura atau Malaysia.

Di tengah keterpurukan soal mutu dunia pendidikan kita, ternyata tidaklah sama dengan tingkat intelegensi manusia Indonesianya. Sejumlah orang Indonesia ternyata banyak yang berotak encer. Mereka bekerja di luar negeri seperti di Eropa, Amerika dan Jepang. Bahkan berhasil menduduki posisi penting.

Suhendra misalnya. Pria kelahiran Jakarta, 17 November 1975 itu, saat ini bekerja pada Badan Peneliti Jerman, BAM di Berlin. Alumnus Universitas Diponegoro Semarang itu berhasil bekerja sebagai peneliti di Jerman setelah meraih gelar doktor di sebuah univeritas teknik di Jerman. Uniknya, Suhendra yang ahli di bidang metal eksplosif itu membiayai kuliahnya dengan bekerja serabutan dan mengumpulkan botol bekas.

Jabatan yang diraih Andreas Raharso mungkin membuat kita berdecak kagum. Pria berusia 44 tahun itu saat ini menduduki pimpinan atau CEO pada sebuah lembaga riset global Hay Group yang berkantor di Singapura. Hay Group sendiri mempunyai jaringan di hampir belahan dunia dan berkantor pusat di Amerika. Klien dari Hay Group ini kebanyakan adalah para pimpinan dunia seperti Amerika serikat, Perancis dan Inggris. Jabatan yang diraih Andreas Raharso cukup fenomenal, karena merupakan satu-satunya orang Asia yang berhasil menduduki posisi puncak. Selama ini jabatan itu didominasi warga Amerika dan Eropa.

Satu lagi orang Indonesia yang berhasil menduduki posisi penting adalah Profesor Yow Pin Liem. Pria 49 tahun asal Cirebon, Jawa Barat itu adalah pimpinan dan pendiri sebuah perusahaan riset Pro Thera Biologisc di Rhode Island, Amerika Serikat. Di tempat riset Prof Yow ini sudah banyak berkontribusi melakukan penelitian terutama masalah pemahaman seputar molekul kanker dan anthrax.

Barangkali gelar akademis yang diraih Kent Sutanto ini tentulah langka. Pria kelahiran Surabaya 1951 silam itu meraih gelar doktor di Jepang. Tidak tanggung-tanggung gelar doktor yang diraih Kent di negeri sakura itu sebanyak empat gelar dari universitas yang bebeda. Saat ini Kent Sutanto mengajar di Universitas Waseda, kampus almamaternya. Selain itu Kent Sutanto juga sebagai dosen tamu di Universitas Venesia, Italia. Karena otaknya yang cemerlang, pria asal Surabaya yang sudah 35 tahun tinggal di Jepang itu mendapat kepercayaan pemerintah setempat duduk di MITI, semacam Departemen dan Perindustrian Jepang.

Menilik prestasi dan kegigihan orang-orang Indonesia ini memang tidak kalah bahkan setara dengan ilmuwan dunia. Walau kondisi pendidikan di tanah air dirasa masih belum kondusif mereka mampu menembus ruang dan waktu berkiprah cemerlang di tingkat internasional. Mereka mengaku masih betah mengabdi di mancanegara. Mereka belum berniat untuk berkiprah di tanah air, karena mereka trauma ilmu yang mereka raih dengan susah payah itu tidak mendapatkan penghargaan yang selayaknya. ( end )

ps : kalo mereka bisa kenapa kita gak bisa??? tunggu saya beberapa tahun lagi….AMIINNN….. :))

PENDIDIKAN DI KOREA SELATAN

SEMANGAT menjadi kata kunci yang membawa kebangkitan pendidikan Korea Selatan hingga siap bersaing dengan negara lain. Mereka mulai dengan membangun infrastruktur pendidikan yang luluh lantak akibat Perang Korea, lalu membenahi kualitasnya.

Kini di seantero Korea Selatan terdapat 19.258 sekolah negeri maupun swasta, dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, dengan 11.951.298 pelajar. Di antaranya terdapat 218 perguruan tinggi, yang menampung 2.357.881 mahasiswa.

Secara tradisional orang Korea Selatan menekankan pentingnya pendidikan sebagai jalan untuk memuaskan diri sendiri dan juga untuk menunjukkan kemajuan sosial, dan kemajuan negaranya. Bertolak dari situ, Pemerintah Korea Selatan merumuskan tujuan pendidikan, yang dalam kalimat singkat dapat dituliskan sebagai berikut: Membangun karakter masyarakat, kemampuan hidup mandiri, menuju kemakmuran bersama berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan.

SISTEM pendidikan di Korea Selatan dibagi menjadi enam tahun sekolah dasar, tiga tahun sekolah menengah pertama, tiga tahun sekolah menengah atas, dan empat tahun perguruan tinggi. Selebihnya untuk jenjang pendidikan pascasarjana. Dengan demikian, orang Korea Selatan menghabiskan paling tidak 23 tahun dari usianya dalam pendidikan formal.

Seiring dengan didirikannya Republik Korea tahun 1948, pemerintah mulai menyusun sistem pendidikan modern. Lima tahun kemudian, 1953, pemerintah mewajibkan menyelesaikan sekolah dasar selama enam tahun pada usia antara 6 dan 11 tahun. Jumlah anak yang terdaftar pada tingkat dasar ini mencapai 99,8 persen, dan tidak ada lagi anak-anak yang putus sekolah. Tahun 2001 mulai diterapkan pendidikan wajib pada jenjang sekolah menengah.

Tidak berlebihan jika sekarang Korea Selatan dipuji sebagai salah satu negara yang angka melek hurufnya tertinggi di dunia. Dan ini menjadi fakta bahwa orang Korea Selatan yang berpendidikan menjadi modal utama utama percepatan pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai negara itu selama tiga dekade silam.

Melalui penguatan kesejahteraan pendidikan bisa diatasi kesenjangan pendidikan dan meningkatkan integrasi sosial. Sementara untuk memperluas pembangunan negara dan daya saing daerah yang merata, dipersiapkan desentralisasi sektor pendidikan dan reformasi sistem pendidikan daerah yang terarah.

Perguruan tinggi pun diberi peran dalam pengembangan pendidikan, melalui program “Brain Korea 21” atau BK21. Program ini bertujuan meningkatkan derajat sumber daya manusia Korea Selatan memasuki persaingan dalam komunitas internasional abad ke-21. Dimulai sejak tahun 1999 dan direncanakan berlangsung selama tujuh tahun, hingga tahun 2005. Melalui program ini pemerintah mengucurkan dana sebesar 1,4 triliun won (sekitar Rp 11,2 triliun), untuk mendanai perguruan tinggi dengan titik berat pada kegiatan penelitian. BK21 menjadi semacam unit riset unggulan dalam pendidikan tinggi Korea Selatan.

Seiring dengan kebijakan pendidikan wajib yang diperpanjang menjadi sembilan tahun (sekolah dasar hingga sekolah menengah), pemerintah menjaring sumber dana tambahan dengan menarik pajak pendidikan daerah, pajak pendapatan, dan pajak konsumsi rokok.

Ada prinsip yang ditanamkan sejak kecil kepada orang-orang Korea Selatan agar selalu berada selangkah di depan.

“Ketika orang lain sedang tidur, kamu harus bangun. Ketika orang lain bangun, kamu harus berjalan. Ketika orang lain berjalan, kamu harus berlari. Dan ketika orang lain berlari, kamu harus terbang.”

ps: wah…gue setuju banget tuh ama prinsipnya…..>.<

KOREA SELATAN

1. Orang korea selalu sehat dan awet muda, sebeb meraka menghindari makanan yang mengadung kolesterol dan jarang sekali menggunakan gula sebagai pemanis
2. Cinta produksi dalam negeri, selama disana jarang sekali atau hampir tidak ada mobil buatan jepang berseliweran yang ada smuanya produk dalam negeri sendiri.

Sampai hal yang terkecil mereka bangga dengan produksi merekan sendiri
3. Untuk ICT (ini yang membanggakan) :
a. Setiap 1 km di jalan raya terpasang CCTV dan dikendalikan oleh perusahaan swasta yang bekerja sama dengan pemerintah. Tugas polisi sangat minim sekali, bila ada pelanggaran langsung terlihat karena setiap mobil ada identitas tersendiri dan didenda pada saat sampai dirumah
b. Tidak ada sim card seperti layaknya di Indonesia, teknologi yang mereka gunakan adalah CDMA
c. Identitas semua penduduk terdata dalam suatu server, sehingga penduduk tidak perlu ganti ktp atau apapun juga, karena data smua tentang mereka sudah ada
d. Pokoknya semua kehidupan berbasis IT
4. Sekolah (SMK) kami mengunjungi 4 sekolah yang berbasis SMK, dengan gambaran yang sama :
a. Porsi untuk kurikulum 50 % budi perkerti, 44% Materi Produktif, 6 % ekstra ko kurikuler
b. Peran swasta sangat menunjang, seperti contoh beberapa perusahaan mendirikan SMK sehingga mereka tidak ada program PKL, sebab guru yang mengajar di sekolah tersebut adalah manager perusahaan yang mempunyai kemampuan yang luar biasa. Sekolah dijadikan pusat reset produk oleh perusahaan tersebut, para manajer tersebut memilih jadi guru karena penghasilan mereka setahun 440.000.000 won
c. Setiap siswa disana tidak ada yang merokok sebab apabila merokok langsung “get out”
d. Tidak ada Ujian Nasional sebab kurikulum berpokus kepada kemampuan produktif/keahlian dan siap untuk kerja
e. bejar secara full day dan gratis makan

Advertisements