Archive for January, 2010


main casts : kim hyun joong (ss501), hwang bo

chapter 1 : prologue

hidup adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa ditebak. apa yang akan terjadi esok hari adalah misteri yang tidak akan pernah terpecahkan. ungkapan bahwa “kehidupan bagaikan roda yang tidak pernah berhenti berputar” akan menimpa setiap insan di dunia.

pulau jeju, musim gugur,2004

seorang pria yang kira-kira berusia 24 tahun. berjalan lunglai menyusuri sebuah taman yang dipenuhi daun-daun mapple yang berguguran. dari raut wajahnya terlihat ia tampak lesu. pikirannya melayang ke sebuah masa dimana ia tampak begitu bersinar. ia rindu saat-saat dimana orang-orang mengelu-elukannya, ia rindu saat-saat ketika sorotan lampu panggung yang megah menyorotkan sinarnya hanya untuknya. ia rindu saat-saat dimana ia bisa menghibur ribuan pasang mata melalui alunan nada dan irama yang ia mainkan. ia merindukan itu semua.

tapi kenyataan berkata lain, yang terjadi saat ini justru ia terasing, sendiri di sebuah kota kecil, dimana orang-orang tidak mengenalnya. tapi inilah keputusan yang telah diambilnya. ia harus meninggalkan dunianya yang amat dia cintai, musik, dan juga keempat orang sahabatnya yang selalu ada bersamanya baik dalam suka maupun duka dan memilih untuk meyendiri.

langkahnya terhenti pada sebuah bangku taman tua. sejenak ia terdiam memperhatikan bangku tua tersebut, menyentuhnya dan ia memutuskan untuk beristirahat sejenak di bangku tersebut. ia melemparkan pandangannya di sekitaran taman itu. hanya terdapat satu bangku di taman itu.

“nasibmu sama sepertiku…sendiri,terlupakan dan terasingkan”. ucapnya dengan nada yang berat, seakan bangku itu bisa mendengar dan memahami apa yang dikatakannya.

“tapi kau masih lebih baik dariku. karena kau adalah benda mati yang tidak merasakan sakit hati, kemarahan,kesedihan, dan kehilangan seperti yang ku rasakan”.  lanjutnya sambil memandangi bangku tua tersebut.

sejenak ia menghela nafas, dan beranjak dari bangku tua tersebut dan berjalan perlahan meninggalkan bangku tua tersebut. lalu berhenti sejenak, dan menoleh perlahan ke bangku tua tersebut. memandanginya sejenak. dan kemudian pergi meninggalkan bangku tua dan taman itu.

tak terasa, malam pun tiba. sampailah ia di depan sebuah rumah sederhana tempat dimana ia tinggal beberapa minggu terakhir ini. ketika ia hendak masuk ke dalam rumah, tiba-tiba seorang wanita setengah baya memanggilnya.

” KIM HYUN JOONG!!” tegur wanita itu.

” ah, bibi Hyun Jae…ada apa? bukankah minggu ini aku sudah membayar uang sewa? “.

” haha…tenang saja….aku percaya padamu, selama ini kau selalu tepat waktu dalam membayar uang sewa…ada keperluan lain yang ingin aku bicarakan denganmu “. ujarnya.

“oh, baiklah…mari bibi, silahkan masuk…”. ujarnya sambil mempersilahkan wanita itu masuk. mereka duduk berhadapan di dalam sebuah ruang tamu berukuran kecil. hyun joong menyuguhkan sebuah teh hangat untuk bibi pemilik kontrakan.

” ah, kau benar-benar anak muda yang sopan…” ujarnya sambil tersenyum. hyun joong pun tersipu malu.

” jadi, tujuanku kemari…aku ingin meminta bantuanmu…besok adalah hari ulang tahun cucuku…aku ingin merayakannya secara kecil-kecilan saja, maka dari itu aku sudah memesan kue-kue kecil, dan aku ingin kau mengambilnya untukku…aku tidak bisa mengambilnya karena aku harus memasak makan malam, dan kondisiku juga sedang tidak begitu baik…apa kau mau menolongku?”.

” tentu saja…bibi tinggal berikan saja alamat toko kue tersebut. besok aku akan mengambilkannya untuk bibi…”

” baiklah…terima kasih..kau memang benar-benar baik….tidak salah aku menyewakan rumah ini padamu…baiklah, aku yakin kau pasti ingin beristirahat, aku akan pulang…besok jangan lupa ya…”. ujar bibi pemilik kontrakan sambil beranjak dari ruang tamu, hyun joong mengantarnya hingga ke pintu depan.

” apakah bibi ingin kuantar?”.

” oh, tidak usah…rumahku kan dekat…terima kasih…selamat malam…”. ujar bibi pemilik kontrakan sambil berlalu dari hadapan hyun joong. hyun joong memandanginya sampai bibi pemilik kontrakan tidak terlihat lagi….”benar-benar wanita tua yang tegar”. gumamnya…

keesokan harinya,  hyun joong bergegas mengambil kue pesanan bibi pemilik kontrakan. ia pun berjalan kaki menuju toko tersebut. dan tak berapa lama ia sampai di toko tersebut dan langsung mengambil pesanan yang dimaksud. lalu tak berapa lama kemudian ia keluar dari toko dengan setumpuk kardus yang berisi pesanan kue yang dimaksud bibi pemilik kontrakan.

” huff…aku tidak menyangka kalo ternyata pesanan bibi sebanyak ini…”. ia berjalan dengan hati-hati karena tumpukan kardus kue itu menghalangi pandangannya. sesekali ia berhenti sejenak, untuk mengatur tumpukan kardus kue yang mulai berantakan, lalu kembali berjalan. tiba-tiba dari arah seberang ada seorang wanita yang mengendarai sepeda, ia mengandarai sepedanya dengan kagok karena hyun joong yang berjalan dari arah yang berlawanan, berjalan sempoyongan hingga akhirnya…..BRUUKKKKK!! tumpukan kardus kue itu berjatuhan, untungnya kue-kue di dalamnya tidak berhamburan keluar karena kardusnya telah diikat. wanita itupun juga terjatuh dari sepedanya. ia kesal dan menghampiri hyun joong yang mencoba berdiri setelah ditabrak wanita itu.

” hei! kau ini tidak punya mata ya?! gara-gara kau berjalan sempoyongan seperti orang mabuk, aku jadi terjatuh dari sepedaku! “. ujarnya kesal.

” hei…kenapa kau malah menyalahkanku? kau sudah tahu kalau aku sedang berjalan di depanmu sambil membawa setumpuk kardus-kardus ini…kenapa kau tidak berhenti sejenak dan membiarkan aku lewat? ” ujarnya tidak mau kalah.

” dasar kau ini menyebalkan sekali!…” ujar wanita itu kesal, sambil berlalu dari hadapan hyun joong, mengambil sepedanya dan pergi.

” huh…dasar menyebalkan…aku harap tidak akan pernah bertemu lagi dengan wanita itu…” gumamnya kesal sambil berjongkok untuk membereskan tumpukan kardus yang berantakan.

akhirnya setelah insiden kecil tersebut, akhirnya Kim Hyun Joong sampai juga di rumah bibi Hyun Jae.

“maafkan aku bibi, aku agak sedikit terlambat ketika mengambilkan kue-kue ini…”.

“ah, tidak apa…terima kasih ya kau sudah mau menolongku? aku sangat berharap bahwa malam ini kau bisa hadir di rumahku”. ujar bibi Hyun Jae sambil tersenyum.

“Jangan khawatir…aku pasti akan datang…”. jawabnya sambil tersenyum juga. tak lama Hyun Joong pun berpamitan dari rumah bibi hyun jae.  ia akan pergi ke sebuah tempat dimana ia bisa menenangkan diri dan pikirannya dari berbagai masalah yang menderanya, tempat yang akhir-akhir ini menjadi tempat favoritnya untuk menyendiri. sebuah taman di musim gugur yang kemarin ia kunjungi. sebelum pergi ke taman itu, Hyun Joong kembali ke rumah kontrakannya yang sederhana untuk mengambil sebuah gitar. gitar itulah yang selama beberapa minggu terakhir ini yang selalu menemani dan menghiburnya di kala ia sedih.

ketika sampai di taman itu, Hyun Joong pun segera memetik gitarnya sambil terduduk di bangku taman yang sudah tua sambil bernyanyi lirih.

Neo moerineun neomuna nappaseo…Neo hanabakke nan moreugo….dareun sarameul bogoineun neon…ireon naemaeumdo moreugetji…”

suaranya tercekat, Hyun Joong Pun terdiam beberapa saat. entah kenapa ia begitu sedih ketika menyanyikan lagu ini, dan tak berapa lama kemudian ia kembali memainkan alunan nada demi nada dari gitar akustiknya. lalu tiba-tiba….

” kau?? “. ujar seseorang. Hyun Joong yang sedang asyik memainkan gitarnya pun mendongak untuk melihat asal muasal suara tersebut dan ia cukup kaget, tetapi berusaha untuk menutupi rasa kagetnya. suara yang memanggilnya itu adalah wanita yang kemarin menabraknya dengan sepeda.

“kau?!…ehm, apa yang kau lakukan di sini? mengganggu saja…”. ujar hyun joong dingin.

” hei, jaga bicaramu itu ya…aku memang selalu berjalan-jalan di taman ini setiap pagi …ini tempat favoritku. sedangkan kau? apa yang kau lakukan di sini? jangan katakan bahwa kau juga suka ke tempat ini?!”. ujarnya ketus.

“lalu, kalau aku memang menyukai tempat ini apa urusannya denganmu?”. ujarnya dingin.

“kau ini!…menyebalkan sekali…kenapa kita mesti bertemu lagi ya? aku harap ini pertemuan kita yang terakhir! “. ujar wanita itu.

“ya, begitupun denganku…”. ujar hyun joong datar, sambil bergegas pergi meninggalkan wanita yang masih terlihat kesal atas sikapnya Hyun Joong.

” dasar gunung es yang menyebalkan…”. gumamnya sambil berlalu pergi meninggalkan taman itu.

malam hari…

Hyun Joong bersiap-siap untuk pergi ke rumahnya bibi Hyun jae. sebenarnya suasana hatinya saat ini sedag tidak begitu baik, tetapi ia tidak ingin mengecewakan bibi Hyun jae yang sudah begitu baik terhadapnya. setelah berkaca sejenak lalu segera berangkat menuju rumah bibi hyun jae.

sesampainya di rumah bibi Hyun Jae, hyun joong di sambut dengan hangat oleh bibi hyun jae.

“akhirnya kau datang juga…ayo, masuk….” ujar bibi hyun jae. di dalam rumah sudah ketiga anak bibi hyun jae, baru kali ini hyun joong bertemu dengan mereka karena selama ini anak-anak bibi hyun jae berada di luar kota karena urusan pekerjaan. bibi hyun jae memperkenalkan anaknya satu persatu,mereka semua sudah berkeluarga. bibi hyun jae juga memperkenalkan cucunya yang berulang tahun.

“perkenalkan, ini cucuku yang hari ini berulang tahun. namanya Hyun ah. hari ini ulang tahunnya yang ke lima”. ujar bibi hyun jae.  hyun joong memberikan kado yang ia bawa kepada gadis kecil itu, hyun ah pun tersenyum malu-malu sambil mengambil kado yang di berikan hyun joong.

“selamat ulang tahun ya Hyun ah…”. ucap hyun joong sambil tersenyum. hyun ah pun tersenyum, dan ia berkata..

“kakak tampan sekali kalau sedang tersenyum…”. ujarnya polos. hyun joong cukup tersentak kaget ketika mendengar apa yang dikatakan hyun ah. ia sadar bahwa selama ini ia sudah jarang sekali tersenyum di karenakan masalah yang menderanya.

“terima kasih…”. ujar hyun joong. hyun ah pun tersenyum dan kembali ke pelukan ibunya. suasana di dalam rumah bibi hyun jae terasa hangat, keluarga itu sangat akrab satu sama lain. mereka bercengkerama satu sama lain, anak-anak bibi hyun jae bergantian bercerita tentang pekerjaan mereka. sesekali celetukan-celetukan polos yang keluar dari mulut Hyun jae menambah kehangatan di dalam rumah itu. Hyun Joong memperhatikan suasana keluarga kecil itu, hatinya merasa tenang, anak-anak bibi hyun jae bisa menerimanya dengan sangat baik.

setelah acara makan malam usai, hyun joong minta izin untuk bersantai di teras rumah bibi hyun jae. ia duduk terdiam di teras rumah bibi hyun jae sambil memandangi bintang-bintang yang malam ini bertebaran dengan indahnya di langit Jeju. lalu tiba-tiba seseorang menyentuh pundaknya dari belakang, rupanya itu anak sulung bibi hyun jae. hyun bin,ayah dari hyun ah, ia ikut duduk di sebelah hyun joong.

“bintang-bintang itu indah sekali ya?”. ujarnya memulai pembicaraan sambil menatap langit.

“iya…”. ujar hyun joong singkat.

“aku ingin mengucapkan terima kasih padamu…”. ujar hyun bin.

” terima kasih? untuk apa hyung?”. tanya hyun joong.

“terima kasih, karena kau telah cukup banyak membantu ibuku.  ia sering sekali bercerita tentangmu dalam surat-surat yang ia kirimkan padaku. kata ibuku, ia merasa tenang semenjak kau menempati rumah kontrakan yang ia sewakan. terkadang aku suka merasa khawatir akan kondisi ibuku yang tinggal sendiri semenjak ayah meninggal…aku takut ia merasa kesepian…tapi semenjak ibu banyak bercerita tentangmu yang cukup banyak membantu dan menemaninya, aku merasa tenang…ibuku berkata bahwa, ia langsung merasa cocok denganmu sejak pertama kali kau datang ke kota kecil ini…”. ujar Hyun bin panjang lebar.

hyun joong tidak menyangka bahwa kehadirannya selama ini ternyata bisa memberikan sebuah arti yang cukup besar bagi seseorang. sebenarnya hyun joong juga merasakan apa yang dirasakan bibi hyun jae, ia merasa bahwa bibi hyun jae sudah begitu baik terhadapnya layaknya ibunya sendiri.

“iya…bibi hyun jae juga sudah sangat baik terhadapku semenjak aku datang ke kota ini…padahal ia belum begitu mengenalku, tapi ia sudah begitu baik dan percaya kepadaku…aku akan selalu menjaga kepercayaan yang ia berikan padaku…”. balas hyun joong sambil tersenyum.

” ternyata benar apa yang dikatakan anakku….”. ujar hyun bin tiba-tiba, hyun joong bingung dengan apa yang dikatakan hyun bin.

“ternyata kau memang tampan sekali kalau sedang tersenyum…”. lanjut hyun bin tersenyum, sambil menepuk pundak hyun joong pelan dan kembali masuk ke dalam rumah.

waktu semakin beranjak, malam semakin larut, hyun joong berpamitan kepada bibi hyun jae dan anak-anaknya, terutama kepada hyun bin hyung. hyun bin hyung tersenyum kepadanya, dan hyun joong pun tersenyum padanya. ketika hyun joong akan beranjak pergi dari rumah bibi hyun jae, tiba-tiba hyun ah memanggilnya.

“Hyun joong oppa!”. panggilnya, sambil berjalan mengahmpiri hyun joong. hyun joong pun menunduk agar mereka sejajar.

“bolehkah aku memeluk kakak, karena besok aku akan kembali ke seoul…”. ujarnya polos. hyun joong pun tersenyum dan memeluknya untuk beberapa saat.

“aku menyukai senyuman kakak…kakak seperti pangeran yang ada di dalam buku-buku dongeng yang selalu diceritakan ibu setiap malam….”. ujar hyun ah.

“terima kasih hyun ah…kalau aku adalah pangerannya, maka kau adalah sang putri cantik yang menjadi pasangan sang pangeran…”. ujar hyun joong sambil tersenyum dan membelai lembut kepala hyun ah. hyun joong berpamitan sekali lagi dan kemudian pergi meninggalkan kediaman bibi hyun jae.

Advertisements

jadwal kuliah semester 1 :

senin : -basic english structure, agama, pronounciation

selasa : – speaking class, literal reading, basic english structure

rabu : ppkn

kamis : listening class, literal reading, landasan pendidikan